Senin, 30 November 2009

Murmurs of Earth

“Ini adalah hadiah dari sebuah dunia yang kecil dan jauh. Kenang-kenangan berisi suara, ilmu pengetahuan, musik, pemikiran, serta perasaan kami. Kami semua berusaha untuk mempertahankan keberadaan kami, sehingga bisa bersama-sama hidup dengan kalian.”

— Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter


Pada tahun 1977 misi Voyager I dan II telah diluncurkan ke ruang angkasa dengan mengikutsertakan berbagai suara (musik) yang berasal dari seluruh dunia serta gambar-gambar pilihan yang bertujuan untuk menggambarkan keanekaragaman makhluk hidup dan budaya di Planet Bumi. Musik dan gambar tersebut direkam dalam sebuah piringan yang terbuat dari tembaga berlapis emas, dan ditujukan kepada bentuk kehidupan luar angkasa yang cerdas atau manusia Bumi di masa depan yang mungkin akan menemukannya.




Wahana antariksa Voyager akan menghabiskan waktu sekitar 40.000 tahun untuk mencapai tata surya yang terdekat. “Terdekat” di sini artinya adalah jarak yang setara dengan 1,7 tahun cahaya (waktu yang ditempuh oleh cahaya selama 1,7 tahun. Kecepatan cahaya = 3x108 m/s). Maka dari itu, piringan emas ini akan membutuhkan waktu yang amat sangat lama sekali untuk bisa ditemukan oleh bentuk kehidupan lain, kecuali bila bentuk kehidupan asing itu sendiri yang tidak sengaja berpapasan dengannya di luar angkasa.



Foto cover piringan emas



Piringan emas yang isinya dipilih oleh sebuah tim yang diketuai oleh Carl Sagan dari Universitas Cornell, terdiri dari kumpulan 115 gambar berikut rekaman suara-suara alam seperti ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara ikan paus. Selain itu, piringan ini juga diisi dengan musik dari berbagai budaya dan era yang berbeda, serta ucapan salam dalam 55 bahasa. Piringan emas ini juga menyertakan pesan tercetak dari Presiden Jimmy Carter dan Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kurt Waldheim.



Foto asli piringan emas



Foto asli piringan emas

Kita patut berbangga karena Bahasa Indonesia mendapat kehormatan menjadi salah satu dari 55 bahasa yang direkam dalam piringan emas tersebut. Lalu setelah bagian suara-suara Planet Bumi, terdapat bagian berisi musik-musik pilihan dengan total durasi putar selama 90 menit. Musik tersebut berasal dari berbagai budaya, termasuk musik klasik dari Timur dan Barat. Salah satunya adalah Ketawang Puspawarna (arti dalam Bahasa Indonesia : beragam bunga) yang direkam dengan menggunakan gamelan Keraton Pura Paku Alaman di bawah pimpinan K. R. T Wasitodipuro. Perekaman musik gamelan Jawa yang berdurasi 4 menit 43 detik ini dilakukan oleh Robert E. Brown.


REFERENSI :

Wikipedia

NASA - Voyager

Senin, 24 Agustus 2009

Shooting Stars



Sing to me the song of the stars
Of your galaxy dancing a
nd laughing and laughing again

When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that you have for me over again


Jika langit pada malam hari terlihat cerah dan tidak berawan, cobalah untuk keluar dari rumah. Sempatkan sedikit waktu untuk melihat langit di atas sana, menatap titik-titik bintang yang bercahaya, mengamati planet-planet yang kebetulan terlihat dan tampak cemerlang dibandingkan objek yang lain. Jika beruntung, kita akan mendapati sekelebatan cahaya yang membelah langit malam. Terkadang cahayanya hanya dapat bertahan beberapa detik saja, namun ada diantaranya yang bisa bertahan lebih lama dari itu. Banyak orang sering menyebut objek ini dengan bintang jatuh dan orang awam sering mengartikan nama ini dengan adanya sebuah bintang di kejauhan sana yang jatuh (runtuh) padahal tidak seperti itu yang sebenarnya terjadi. Nama lain dari bintang jatuh adalah meteor.



Meteor yang melintas di langit malam



Meteor merupakan cahaya yang tampak dari sebuah meteoroid (International Astronomical Union (IAU) mendefinisikan meteoroid sebagai sebuah benda padat yang bergerak di ruang antar planet dengan ukuran yang lebih kecil dari asteroid dan lebih besar dari sebuah atom) pada saat benda tersebut masuk ke dalam atmosfer Bumi. Cahaya yang kita lihat saat meteor tersebut melintas di langit disebabkan oleh tekanan ram (tekanan yang dihasilkan oleh benda yang bergerak dengan kecepatan supersonik dalam medium fluida, dalam hal ini adalah gas) pada saat meteoroid memasuki atmosfer. Tekanan ram ini menghasilkan gaya hambat yang besar pada meteoroid tersebut dan menghasilkan tekanan udara yang sangat besar pula di sisi depannya. Tekanan ini memanaskan udara yang akhirnya memanaskan meteoroid tersebut hingga terbakar dan kita yang berada di permukaan Bumi melihatnya sebagai efek cahaya.


Lamanya cahaya meteor yang dapat kita lihat biasanya bergantung dari ukuran meteoroid tersebut karena semakin besar ukurannya, semakin lama waktu yang dibutuhkan agar sebuah meteoroid habis terbakar. Jika sebuah meteoroid tidak habis terbakar dalam perjalanannya di atmosfer dan pada akhirnya dapat mencapai permukaan Bumi, benda tersebut disebut dengan meteorit. Meteor yang menabrak permukaan Bumi atau objek lain dapat membentuk kawah seperti yang diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Peristiwa ini juga dapat menjelaskan mengapa ada banyak sekali kawah di permukaan Bulan ataupun planet-planet lain yang tidak memiliki atau sedikit mengandung atmosfer. Tidak adanya atmosfer yang menyelubungi suatu planet dapat menyebabkan planet tersebut tidak terlindungi dari benda apapun yang mendekatinya sehingga kemungkinan adanya tumbukan pada permukaannya akan lebih banyak terjadi.



Kawah akibat tumbukan meteor


Badai Leonid Shower pada tahun 1833

Setiap hari Bumi selalu dibombarda dengan jutaan meteor. Sayangnya, dikarenakan berbagai kondisi, tidak semua penampakan mereka dapat kita amati setiap saat. Meteoroid yang berukuran lebih kecil dari kerikil akan cepat terbakar sehingga efek cahaya yang biasanya timbul sulit teramati. Faktor terang gelapnya langit yang menaungi pengamat juga dapat mempengaruhi. Waktu paling baik untuk mengamati meteor adalah saat langit benar-benar gelap, biasanya pada dini hari menjelang fajar sehingga meteor yang redup dapat teramati dengan lebih jelas.


Meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi dalam jumlah banyak dapat menyebabkan sebuah fenomena langit yang sangat indah : Meteor Shower atau hujan meteor. Fenomena ini terjadi saat Bumi bergerak melewati lintasan debu yang merupakan sisa-sisa dari komet yang pernah melintas di dekat orbit Bumi. Debu-debu ini merupakan sisa hasil reaksi komet terhadap Matahari yang tertinggal di sepanjang lintasannya dan jika orbit Bumi memotong lintasan ini, dedu-debu tersebut akan masuk ke dalam atmosfer Bumi sehingga menimbulkan efek hujan meteor. Meteor shower juga bisa berasal dari meteoroid yang berasal dari daerah di sekitar sabuk asteroid.

Kapan sebuah meteor shower akan terjadi beserta waktu puncak masa aktifnya dapat dihitung berdasarkan pengamatan. Beberapa diantaranya merupakan meteor shower yang rutin terjadi setiap tahun. Meteor shower tersebut diantaranya adalah : Quadrantids, Lyrids, η- dan Southern δ-Aquariids, Draconids, Orionids, Leonids, Geminids serta Perseids. Nama-nama itu diberikan berdasarkan arah radian (titik di langit dimana meteor tampak berasal dari sana) meteor shower tersebut berada. International Meteor Organization (IMO) telah memberikan tabel data masa aktif meteor

shower seperti yang tertera di bawah ini. Tabel tersebut disusun berdasarkan informasi terbaik yang tersedia dari bulan Mei 2008 dan hanya valid untuk tahun 2009.



Working List of Visual Meteor Showers


Keterangan :

  • α, δ : Koordinat langit yang menyatakan posisi sebuah meteor shower, biasanya pada titik maksimum. α adalah asensiorekta sementara δ adalah deklinasi.
  • r : Index populasi, yaitu distribusi kecerlangan meteor shower. r = 2.0 – 2.5 akan lebih terang dibandingkan dengan meteor pada umumnya sementara r yang nilainya di atas 3. 0 a kan terlihat lebih redup.
  • λo : Posisi bujur Matahari. Semua λo yang diberikan untuk equinox 2000.0.
  • ZHR : Zenital Hourly Rate, jumlah maksimum meteor yang ideal dapat diamati pada saat langit benar-benar cerah dan radian berada di atas kepala, per jam.


Masih ada banyak kesempatan yang dapat kita manfaatkan untuk mengamati meteor shower sampai di penghujung tahun 2009 nanti. Persiapkan segala perlengkapan untuk pengamatan pada malam hari dan selamat menghitung bintang jatuh yang sebanyak mungkin bisa Anda dapatkan.


Referensi :

Senin, 08 Juni 2009

Twinkle Little Star

Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!


Rasanya begitu indah setiap kali kita mendengarkan lagu tersebut dikumandangkan oleh sebuah kotak musik yang berhiaskan boneka seorang balerina kecil dimana boneka tersebut akan berputar jika kita juga memutar tuas kecil yang biasanya tersembunyi di salah satu sisi kotak musik tersebut. Mungkin, kita juga akan mengulum senyum jika ada salah seorang adik, sepupu ataupun kemenakan kita yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak sedang bernyanyi bersama teman-temannya di sekolah. Sebuah lagu yang mengungkapkan ketertarikan pencipta atau penuturnya akan sebuah objek yang selalu menghiasi langit di malam hari, yang kerlipnya tidak kalah indah dengan kemilau sebongkah berlian.


Lalu apakah gerangan benda di langit sana yang selalu tampak berkelap-kelip itu? Sebagian besar diantaranya adalah bintang. Benda yang tampak kecil jika dilihat dari Bumi dan mampu mengeluarkan cahayanya sendiri ini telah berhasil menyihir banyak orang yang menatapnya. Bukan hanya tersihir akan keindahannya melainkan juga karena misterinya, keberadaannya dan keberlangsungan sampai kapan benda bercahaya itu akan terus ada. Itulah yang selalu menggugah keingintahuan banyak orang dari dulu sampai sekarang hingga manusia mulai memperhatikan, mengamati, mencari tahu apakah jika hari ini dia muncul di langit, dia akan kembali muncul di kemudian hari. Lalu lambat laun orang-orang mulai menyadari bahwa benda-benda bercahaya itu bergerak. Gerak semu harian bintang atau benda langit.


When the blazing sun is gone,
When there's nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!


Dengan tidak mengesampingkan fakta bahwa semua benda langit yang bisa kita lihat itu bergerak sesuai dengan acuannya masing-masing, Bumi kita juga berputar pada porosnya atau yang sering kita sebut sebagai rotasi Bumi. Perputaran ini yang menyebabkan terjadinya efek siang dan malam karena di satu waktu, satu bagian Bumi bergerak menghadap ke arah Matahari (siang hari), di waktu yang lain bagian tersebut akan membelakangi Matahari sehingga tidak mendapatkan cahaya sama sekali (malam hari). Karena rotasi Bumi ini kita juga dapat menikmati dengan jelas Matahari terbit (sunrise) atau Matahari tenggelam (sunset) yang terkenal dengan keindahannya. Terbit dan tenggelam. Efek ini tidak hanya berlaku pada Matahari sebagai bintang yang paling dekat dengan kita namun juga berlaku untuk benda langit yang lain.


In the dark blue sky so deep
Through my curtains often peep
For you never close your eyes
’Til the morning sun does rise
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are!


Bulan, bintang—termasuk Matahari—dan juga benda langit lain yang dapat kita amati di Bumi, terbit dan tenggelam sesuai dengan waktu yang mereka miliki masing-masing untuk terus berada di atas langit. Namun adakah yang menyadari bahwa ada kalanya beberapa objek di tempat-tempat tertentu tidak pernah tenggelam dan juga sebaliknya, tidak pernah terbit? Ada kalanya Matahari di tempat tertentu bisa muncul selama 6 bulan lamanya namun sisa tahun selanjutnya dihabiskan oleh sang Surya dalam peraduan sang cakrawala. Lalu, adakah yang menyadari bagaimana mereka bergerak dan melintas di atas kepala kita?


Gambar 1

Jejak gerak benda langit di daerah kutub utara (lintang tinggi)


Sekarang, mari kita bayangkan bahwa kita sedang berada di kutub utara. Berdiri di atas tumpukan salju dan menengadahkan kepala ke atas (titik zenith), menatap satu titik terang yang bersinar tepat di atas kepala kita. Bayangkan pula pakaian lengkap yang harus kita kenakan berhubung suhu udara yang terlalu ekstrim di sana. Jaket bulu tebal, sarung tangan, penutup telinga atau kapucon, dan perlengkapan lain. Oh, yang terakhir ini hanya pilihan saja agar lebih menjiwai, tidak dipaksakan. Oke, kita lanjutkan. Jika kita amati dengan seksama, kita akan mendapati bahwa benda-benda langit yang kita lihat di sini akan bergerak secara melingkar, memutari satu titik terang yang berada tepat di atas kepala yang sejak tadi kita amati. Titik terang ini yang sering disebut dengan Bintang Kutub atau Polaris, bintang paling terang di rasi Ursa Minor (alpha UMi).


Gambar 2

Matahari pada tanggal 21 Juni atau disebut titik balik utara. Di kutub utara, Matahari hanya berputar-putar berlawanan arah jarum jam (mata kita arahkan ke atas - titik zenith)


Fakta menarik lain yang akan kita temukan adalah bahwa bintang-bintang yang kita lihat dari tempat ini (yang notabene berada di belahan langit utara) tidak akan pernah tenggelam sementara jika Matahari terbit untuk 6 bulan lamanya (siang hari), Matahari akan bergerak di sepanjang cakrawala. Salah satu kerugian dari letak geografis ini, kita tidak dapat mengamati bintang-bintang yang berada di langit belahan Selatan.

Untuk kutub selatan, berlaku hal yang sama namun sayangnya tidak ada bintang kutub di bagian langit ini.


Gambar 3

Jejak gerak benda langit di daerah lintang sedang (masih di langit belahan Utara)


Selanjutnya, kita sedikit bergeser menjauhi daerah kutub, menuju daerah dengan letak geografis lintang sedang, dimana suhu udara di sekitar kita tidak lagi seekstrim sebelumnya dan kita bisa menanggalkan jaket tebal serta perlengkapan lain yang sebelumnya kita pakai. Contoh tempat yang termasuk ke dalam daerah ini (lintang sedang) adalah Eropa, Amerika Utara, atau Jepang untuk bumi belahan utara serta Australia untuk Bumi belahan Selatan. Di tempat-tempat ini, Polaris yang menjadi pusat pergerakan bintang-bintang sedikit bergeser mendekati cakrawala hingga sebagian bintang yang pada gambar 1 tidak tenggelam, pada daerah ini bintang-bintang yang semakin jauh dari titik tengah akan mengalami fase terbit dan tenggelam dengan pergerakan seperti di gambar 3. Pada daerah ini ada beberapa bintang yang berada di langit belahan Selatan dapat dilihat.


Gambar 4

Jejak gerak benda langit di daerah lintang rendah (equator)


Perjalanan kita berakhir di daerah equator seperti Indonesia, Brazil, Colombia, Ecuador, dan lain sebagainya. Di daerah ini, lingkaran semu yang dibentuk oleh jejak-jejak bintang dengan bintang Polaris sebagai titik tengahnya semakin bergeser mendekati cakrawala bahkan sampai tidak terlihat—mungkin ada, namun hanya tersisa lingkaran kecil di ujung cakrawala. Itu pun jika kita beruntung melihatnya saat titik tengah lingkaran tidak tertutupi pohon atau pun rumah-rumah yang menjulang tinggi. Di daerah ini hampir semua objek mengalami tahap terbit dan tenggelam dan keuntungan daerah dengan letak geografis di sekitar equator adalah hampir sebagian besar bintang dapat diamati, baik bintang-bintang yang berada di langit belahan Utara maupun bintang-bintang yang berada di langit belahan Selatan dan Matahari selalu bersinar sepanjang tahun di daerah ini.


Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are


Rotasi Bumi menyebabkan timbulnya gerak harian semu benda-benda langit dan perbedaan letak geografis menyebabkan perbedaan pergerakan benda-benda langit tersebut dan karena ini pula setiap daerah memiliki rentang waktu siang dan malam yang tidak sama bergantung dari letak geografis daerah tersebut.


Referensi :

Kamis, 05 Februari 2009

Comet Down to Earth

Langit begitu banyak menyimpan misteri. Banyak hal di kejauhan sana yang belum terungkap karena keterbatasan mata kita hingga alam semesta masih tetap bungkam dengan kemisteriusannya. Lalu apa sebenarnya yang kita lihat setiap malam? Titik-titik bercahaya yang tampak indah dan berpendar, berkelap-kelip mengisi kegelapan langit malam. Beberapa titik yang terkadang berpindah tempat secara perlahan tanpa kita sadari. Ada juga yang tiba-tiba muncul dalam sekali kelebatan, meninggalkan jejak cahaya yang membuat siapa saja bertanya-tanya apa itu gerangan. Ada pula, objek yang penampakannya sedikit memanjang hingga tampak memiliki ekor dan jika kita beruntung kita dapat mengamatinya dalam rentang waktu tertentu. Objek terakhir ini awam kita kenal dengan sebutan : komet.

Komet atau bintang berekor memiliki keistimewaan karena bentuknya yang khas dibandingkan dengan objek langit lainnya. Pada dasarnya, benda ini mirip dengan asteroid namun hampir seluruh bagiannya terbentuk dari gas dan debu yang membeku. Suhu yang dingin ini karena komet biasanya berasal dari tempat yang sangat jauh dari Matahari. Gas dan debu yang menjadi penyusun komet akan menguap seiring dengan mendekatnya komet tersebut dengan Matahari hingga komet seolah-olah memiliki ekor. Semakin dekat komet dengan Matahari maka ekornya akan semakin panjang. Komet memiliki lintasan atau orbit yang berbentuk elips (namun lebih lonjong dan panjang daripada orbit planet) atau parabola. Bentuk lintasan ini yang menentukan apakah komet tersebut akan kembali datang mendekati Matahari dalam rentang waktu tertentu (elips) atau ia hanya sekali lewat dan akhirnya tidak akan pernah kembali lagi (parabola).


Komet dan bagian-bagiannya :







Berikut ini adalah komet-komet yang terkenal :


Komet Halley



Comet Halley from Sutherland
by Brian Carter 14 March 1986


Komet West


Comet West from Tierra Del Sol Observatory site in San Diego County
by John Laborde 9 March 1975



Komet Hale-Bopp


Comet Hale Bopp from Mt Baker Ski - Hamilton, Washington
by Wade Clark 4 April 1997



Komet Hyakutake


Comet Hyakutake from Observatoire de Haute Provence
by Eric Elst 16 April 1996



Komet C/2007 N3 (LULIN)

Komet Lulin merupakan satu dari 233 komet yang gambarnya dapat ditangkap oleh pengamat yang ada di Bumi pada tahun 2007. Lulin ditemukan pada tanggal 11 Juli 2007 oleh Quanzhi Ye, seorang mahasiswa berumur 19 tahun dari Sun Yat-sen University, China, sementara fotonya diambil oleh Chi Sheng Lin dari National Central University, Taiwan, dengan menggunakan teleskop berdiameter 16 inchi di Observatorium Lulin. Komet ini memang tergolong sangat redup sehingga dibutuhkan bantuan minimal sebuah binokuler untuk dapat mengamatinya. Namun jangan khawatir, Lulin akan terlihat semakin terang dan diperkirakan akan mencapai magnitudo (kecerlangan) maksimal di akhir bulan Februari. Dengan magnitudo sekitar 6 diharapkan komet ini akan lebih mudah diamati dengan menggunakan binokuler.

Waktu terbaik untuk mengamati Lulin adalah di waktu fajar, sebelum Matahari terbit. Lulin berada pada titik terdekatnya dengan Matahari pada tanggal 10 Januari 2009. Seharusnya komet tersebut akan meredup setelah ia mencapai titik ini, namun karena jaraknya dengan Bumi semakin dekat, komet ini akan terlihat sedikit lebih terang.

A printable finder chart in PDF format for the appropriate date range : February 13 – March 2

Nah, penasaran ingin melihat sendiri bagaimana penampakan komet ini, kan? Selamat mengamati kalau begitu. Jangan lupa persiapkan semua perlengkapan sebelum Anda mengamat. DAN. Berhubung pengamatan yang akan kita lakukan di Bumi sangat bergantung dengan cuaca dimana objek akan dapat kita lihat dengan baik saat kondisi langit cerah, jangan lupakan satu hal : BERDOA AGAR TIDAK TURUN HUJAN SAAT PENGAMATAN BERLANGSUNG.

Enjoy the sky!

Referensi :

Kamis, 15 Januari 2009

Gerhana Matahari Cincin - 26 Januari 2009

Tanggal 26 Januari 2009 nanti bisa dikatakan sebagai hari yang istimewa. Selain bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2560, pada hari yang sama kita juga dapat menyaksikan sebuah fenomena langit yaitu gerhana matahari. Gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun ukuran Bulan jauh lebih kecil, bayangan Bulan mampu menghalangi cahaya matahari sepenuhnya karena Bulan yang memiliki jarak rata-rata 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Berdasarkan bentuknya, gerhana matahari dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: gerhana total (piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan Bulan), gerhana sebagian (piringan Bulan hanya menutupi sebagian piringan Matahari), dan gerhana cincin (piringan Bulan hanya menutup sebagian dari piringan Matahari dan ukuran piringan Bulan lebih kecil daripada piringan Matahari), bergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari yang dapat mempengaruhi ukuran piringan Matahari dan Bulan yang kita amati dari Bumi.


A : Gerhana Matahari Total
B : Gerhana Matahari Cincin
C : Gerhana Matahari Sebagian


Sayangnya, tidak semua orang di Bumi dapat melihat fase total ataupun fase cincin setiap kali gerhana Matahari terjadi. Hanya daerah-daerah tertentu yang termasuk ke dalam lintasan gerhana saja yang dapat melihatnya sementara daerah selain lintasan tersebut hanya dapat melihat gerhana matahari sebagian saja.

Beruntung lah kita yang berada di Indonesia karena pada tanggal 26 Januari 2009 nanti yang jatuh pada hari Senin, dapat menyaksikan fenomena gerhana matahari cincin walaupun tidak seluruh wilyah di Indonesia akan menyaksikan fase gerhana yang sama. Beberapa wilayah yang termasuk ke dalam lintasan gerhana matahari cincin diantaranya adalah bagian selatan Pulau Sumatera (Lampung dan sekitarnya), bagian barat Pulau Jawa dan bagian tengah Pulau Kalimantan (Borneo dan sekitarnya) sementara daerah lain seperti Jakarta dan Bandung hanya dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian saja.



Untuk daerah di Indonesia dapat dilihat di sini.

Gerhana akan dimulai pada pukul 15.20 dimana piringan Matahari dan piringan Bulan akan mengalami kontak pertama kemudian mencapai puncak pada pukul 16.30 dan berakhir menjelang Maghrib. Nah, bagi Anda yang ingin mengamati gerhana matahari cincin ini sendiri, sebaiknya gunakanlah peralatan yang aman untuk mata karena walaupun intensitas cahaya Matahari berkurang karena tertutupi oleh Bulan namun tetap masih dapat berakibat fatal pada mata kita. Jangan pernah melakukan kontak langsung dengan matahari dan walaupun Anda menggunakan peralatan yang cukup aman sekalipun, jangan mengamati matahari lebih dari 3 (tiga) menit secara terus menerus.

Alat bantu yang dapat digunakan dalam pengamatan gerhana matahari diantaranya adalah kacamata gerhana sederhana yang dapat dibuat dengan menggunakan bahan negatif film atau klise yang sudah ter’bakar’, teleskop atau binokuler yang telah dilengkapi dengan filter matahari atau memproyeksikan bayangan matahari yang didapatkan oleh teleskop dan binokuler tersebut ke sebuah layar atau menggunakan bayangan dari sebuah pinhole camera. Cara-cara aman lain yang dapat digunakan untuk mengamati gerhana matahari dapat dilihat di sini.

Jangan lewatkan kesempatan ini. Selamat mengamati!

Referensi :